Isi Lengkap Orasi Ilmiah Prof. Akhmad Mujahidin di Sidang Senat Ibnu Sina Batam

Berita 29 April 2018 Taslim 9


Prof Akhmad Mujahidin

STT Ibnu SIna - Sidang Senat terbuka dalam rangka Wisuda sarjana, menghadirkan Prof Akhmad Mujahidin. Ia akan menyampaikan orasi ilmiah tentang perkembangan ekonomi syariah dihadapan ribuan undangan yang hadir. Berikut orasi ilmiah guru besar Univeristas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini, pada acara yang digelar di Hotel Pacific, Sabtu (28/4/2018).

Pengembaangan Perbankan Syariah Dalam Perspektif Sosio-kultural Di Indonesia

Oleh Prof. Dr. H. Akhmad Mujahidin, M.Ag

Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Islam Negeri Sulthan Syarif Kasim Riau

Disampaikan dalam wisuda sarjana STAI, STIE dan STT Ibnu Sina Batam  28 April 2018

A.Pendahuluan

Pada awalnya, pendirian institusi keuangan syariah dimulai pada pertengahan tahun 1940-an. Bank syariah didirikan di melayu dan Pakistan pada akhir 1950-an, melalui Jama'at Islami 1969, Egypt's Mit Ghamer Banks ( 1963-1967 ), dan Nasser Social Bank ( 1971 ). Secara umum, eksperimen ini mengalami dinamika naik turun. Akan tetapi, pada masa ini, satu-satunya institusi yang bertahan adalah Nasser Social Bank sebagai bank komersial yang dalam operasionalnya tidak menggunakan sistem bunga. Di Indonesia, pelembagaan ekonomi syariah dimulai sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada 1991 dan mulai beroperasi pada tahun 1992, sebagai bank yang memegang teguh dan beroperasi atas dasar prinsip-prinsip syariah. Perkembangan perbankan syariah menjadi fenomena baru dalam sistem perbankan nasional. Munculnya para pemain baru mengintikasikan bahwa bank syariah mempunyai prospek yang cerah dan pasar yang sangat potensial. Akan tetapi, perkembangan perbankan syariah secara institusi tidak dibarengi tingginya sikap masyarakat yang secara masif menyimpan dananya di bank syariah. Jumlah aset perbankan syariah saat ini belum optimal mengingat pangsa pasar syariah di indonesia sangat luas. Adanya kesenjangan yang sangat jauh dari aset yang dimiliki bank syariah dan potensi pasar yang begitu luas, menimbulkan banyak pertanyaan. Di antaranya, apakah pangsa pasar syariah yang ada saat ini sudah melakukan adaptasi dengan kearifan lokal atau belum atau hanya cenderung berprientasi pada aspek profitable, tanpa memerhatikan dan mengolaborasi nilai-nilai yang berkembang pada masyarakat menjadi entitas intitusi perbankan? Untuk menjawab persoalan tersebut, berikut ini dikaji dan dianalisis gejala masyarakat dalam mengapresiasi bank syariah dengan merealisasikan dan mengaksentuasikan pada nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang pada masyarakat.

B. Relevansi Sosio-Kultur

Perkembangan ekonomi syariah tidak lepas dari kehidupan kearifan lokal atau sosio kultur masyarakat. Ilmu ekonomi dan Sosial memang berbeda, tapi tidak dapat di pisahkan.

Ekonomi merupakan bagian naluri manusia untuk kebutuhan hidupnya. Pada umumnya ekonomi tidak lahir dengan sendirinya, tapi merupakan proses interaksi evolusiuner dari sebuah komunitas. Berbeda halnya dengan ekonomi Islam, ia tidak lahir secara evolusi dari komunitas, tetapi bersumber dari wahyu illahi yang di turunkan kepada komunitas dunia. Misi yang di emban adalah untuk kemaslahatan lahir dan batin bagi manusia dan alam semesta. Perlu diketahui bahwa ekonomi Islam diturunkan bukan untuk mengeliminasi sistem ekonomi yang sudah ada, melainkan untuk memberikan pencerahan. Dengan demikian, praktik dagang yang pernah ada tidak serta merta di eliminasi dan diganti oleh ekonomi Islam. Praktik dagang yang sahih dipertahankan, bahkan diperagakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sebelum dinobatkan sebagai Rasul, Beliau telah menjadi saudagar yang sukses,jujur, visioner, kreatif dan transparan, yang tidak hanya menekankan pendekatan keuntungan, tetapi lebih mengutamakan pendekatan proses, kemitraan dan ta’aawun. sebaliknya, pola perdagangan yang tidak sahih tetus di eliminasi seperti riba, maisir, gharah dan tindakan bathil lainnya. Menurut Abdullah Alwi Hasan, berbagai kontrak jual beli yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan hasil dari proses penyerapan tradisi yang berjalan pada masa itu dan mendapat penyesuaian dengan wahyu, baik Al Quran dan As sunnah. Dan Sunah rasul telah melahirkan berbagai istilah teknis ekonomi syariah. Adanya relasi sistem ekonomi yang ada dengan sistem ekonomi Islam telah melahirkan sejumlah pandangan di kalangan mazhab ekonomi islam. Ada yang menyebut bahwa Sistem ekonomi islam harus sesuai dengan al quran dan as sunah , dan tidak ada korelasi dengan ekonomi konvesional. Ada pula yang menyebut bahwa ekonomi konvesional tidak harus di buang karena di dalamnya banyak hal yang relevan dengan ekonomi islam, selama tidak kontradiktif dengan syariah islam. Bahkan ada yang menyebut bahwa sistem ekonomi islam dan ekonomi konvesional harus dikritisi karena teori ekonomi Islam berbeda dengan ajaran islam yang selalu benar. Pada saat menempatkan ekonomi Islam di tengah ekonomi konvesional merupakan masalah yang masih menyelimuti sistem ekonomi islam di tanah air. Realitasnya banyak ekonomi konvesional melakukan proses modifikasi dan pemolesan yang di kondisikan dengan frame syariah. Akhirnya, tidak sedikit penampakan berupa profil dan performancenya tampak syariah tapi substansi nya konvesional. Belum lagi yang terkondisikan oleh booming ekonomi syariah, maka terjadilah perilaku simbolistik, yang penting berbaju seolah syariah.

Dengan mencermati fenomena tersebut, semakin tampak perlunya pendekatan secara multidimensional terhadap ekonomi islam. Pertumbuhan ekonomi syariah yang tergambar saat ini menampakan kecenderungan satu arah, yaitu pada pengembangan institusional yang menempatkan seolah olah praktik ekonomi syariah hanya terpusat pada adanya institusi ekonomi syariah, antara lain institusi ekonomi syariah dan nasabah atau institusi dengan institusi. Kecenderungan ini sebenarnya tidak seperti yang dicontohkan oleh rasulullah yang ketika itu lebih banyak dilakukan secara perseorangan. Dampak langsung dari kecenderungan tersebut adalah ekonomi syariah seolah olah tidak mengatur pratik ekonomi secara individual. Pelaku ekonomi seperti ini hampir tidak terkena sentuhan teori ekonomi syariah. Padahal, jumlah mereka jauh lebih banyak terutama di sektor real dan golongan ekonomi menegah ke bawah.

C. Memahami Kearifan Kultur Lokal

Sebuah budaya lahir dari keluhuran nilai, kemuliaan sikap, dan keagungan tradisi masyarakat yang berjalan secara kontinu dan mengakar. Dalam prosesnya, budaya lahir dari adanya interaksi, bahkan akulturasi antara keyakinan religi,sosial dan tradisi masyarakat. Persentuhan tersebut melahirkan cara pandang,keyakinan,sikap dan ideologi yang heterogen dan dinamis. Oleh karena itu, kerangka yang digunakan untuk memahami budaya dalam komunitas tertentu harus juga memahami cara pandang, sikap, dan ideologi tempat komunitas masyarakat itu berada. Dalam masyarakat beradab, budaya dibangun atas dasar konsensus nilai-nilai kearifan lokal. Jika kultur dan kearifan lokal dikaitkan dengan aktivitas bisnis,ia menjadi sebuah entitas yang tidak bisa di pisahkan. Bisnis tidak bisa terlepas dari nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial masyarakat yang di anut. Ia tidak bisa dipertentangkan, tetapi harus direlasikan atau bahkan diintegrasikan. Oleh karena itu, memahami nilai-nilai kearifan kultur lokal menjadi sangat signifikan dalam mengonstruksi fundamental ekonomi syariah. Sebagai contoh, dalam kultur ekonomi masyarakat Jawa-pedesaan dikenal istilah paroan, pertelon dan prapatan. Terminologi tidak hanya menyemangati cara aktivitas ekonomi yang sudah lama mengakar pada masyarakat, yang menjungjung tinggi prinsipprinsip bagi hasil sebagaimana di praktikan di bank syariah. Pola bagi hasil yang telah lama tumbuh pada masyarakat, sebenarnya mengarah pada penciptaan keadilan dan memberikan keseimbangan terhadap pelaku ekonomi dengan lingkungannya. Adanya relasi kultur aktivitas ekonomi masyarakat dengan ekonomi syariah seharusnya menjadi energi dan inspirasi,bagaimana para pelaku ekonomi syariah dapat mengejawantahkan semangat kultur pada hubungan ekonomi yang lebih real dan bersinergi.

Hal yang sreing terlupakan dalam pembangunan institusi bisnis adalah kurangnya pemahaman terhadap kultur masyarakat tersebut berada, tidak terkecuali bank syariah yang merupakan bagian dari entitas bisnis. Pemahaman atas kultur masyarakat dan kearifan lokal merupakan salah satu faktor signifikan sebagai prasarat untuk mendesain, menyelaraskan dan mengembangkan bisnis yang kita jalankan. Dengan demikian, institusi bisnis tidak hanya berorientasi perusahaan, tetapi mempunyai keselarasan sosio-kultur dan tanggung jawab sosial. Salah satu kearifan lokal adalah memiliki tingkat solidaritas yang tinggi atas lingkungannya. Dalam khazanah sosiologi Islam, Ibnu Khaldun dikenal sebagai peletak dasar teori solidaritas masyarakat atau dikenal dengan teori Ashabiyat. Teori ini merupakan pengejawantahan dari teori harmoni ka al-jasad al-wahid dalam ajaran islam, yang menggambarkan kelaziman saling melindungi dan membantu di antara sesama. Secara fungsional, solidaritas kelompok sebagai dasar kehidupan yang dilandasi oleh iman dan ahlak mulia. dapat memberikan implikasi terhadap tatanan kerjasama kemanusiaan. Di indonesia, pemahaman atas syariah islam memiliki tafsir yang berbeda,tidak hanya dalam ibadah tetapi persoalan ekonomi. masing-masing memiliki cara pandang dan mazhab sendiri. Sebagai contoh, persoalan dan tafsir atas hukum bunga bank. Ada yang menghalalkan  dengan alasan bahwa bunga bank konvensional tidak memberatkan. Ada juga yang mengharamkan dengan alasan bahwa bunga bank termasuk riba. Faktor pemahaman yang berbeda ini secara tidak langsung berpengaruh pada perilaku masyarakat untuk berinteraksi dan menyimpan dananya di bank syariah. Sejatinya, hal yang harus dilakukan adalah melakukan sosialisasi yang dapat menyeluruh ranah kesadaran seseorang yang timbul dari diri sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun. Saat ini sosialisasi ekonomi syariah dilakukan hanya sebatas simbolik. Indikasinya terlihat dari begitu gencarnya blow up simbol-simbol religi yang bersifat properti. Sosialisasi seperti ini cenderung pada pencitraan dan tidak akan pernah bisa mengubah pola pikir ,sikap,perilaku dan menggerakan kesadaran masyarakat untuk aktif mengembangkan ekonomi syariah. Formulasi sosialisasi hendaknya diorientasikan pada proses penyelarasan dan internalisasi nilai-nilai syariah ke dalam nilai-nilai kearifan kultur lokal yang di yakini dapat mendorong terjadinya perubahan pola pikir, sikap, ideologi masyarakat secara utuh dalam memahami ekonomi syariah, khususnya perbankan syariah.

D. Penutup

Eksistensi perbankan syariah sebagai sebuah institusi bisnis tidak bisa terlepas dari kehidupan sosial masyarakat. Hal yang sering terlupakan dalam pembangunan institusi bisnis adalah kurangnya pemahaman terhadap kearifan kultur lokal tempat institusi bisnis itu berada. Ekonomi syariah merupakan bagian dari entitas bisnis. Pemahaman atas kultur masyarakat yang menyimpan sejuta kearifan lokal merupakan salah satu faktor signifikan sebagai prasyarat untuk mendesain, menyelaraskan, dan mengembangkan bisnis yang di jalankan. Nilai-nilai solidaritas sosial, bagi hasil,kerja sama kemitraan,etos kerja merupakan contoh kearifan kultur lokal yang telah lama mengakar dalam tradisi masyarakat. Dengan demikian, ikhtiar akselerasi pengembangan perbankan sejatinya tidak hanya difokuskan pada pengeksploitasian simbol simbol religi yang bersifat properti. Proses internalisasi kearifan kultur lokal dalam sistem peebankan syariah menjadi paradigma baru dalam pengembangan peebankan syariah karena di dalamnya terdapat keluhuran nilai nilai yang memiliki persenyawaan dan keselarasan dengan prinsip syariah.

 

MUTIARA PENDIDIKAN UNTUK PARA WISUDAWAN/WISUDAWATI

1. MANUSIA DINILAI DARI PERBUATANNYA

Nilai seorang manusia ditentukan oleh perbuatannya sendiri, tidak dibawa melalui keturunan, kepandaian dan kekayaannya. Tetapi bergantung bagaimana dia menerapkan kepandaian, kekayaan dan wataknya dalam bermasyarakat. Semua kalau diarahkan untuk kepentingan sendiri tidak akan bermanfaat

2. ORANG MENARIK: BUKAN DARI PAKAIAN

seseorang menarik bukan karena pakaian yang indah melainkan terletak pada kesederhanannya, sopan santunnya dan cerahnya wajah

3. DALAM MELANGKAH DAN BEKERJA: TELADANI AIR

Setiap berjalan satu langkah, bercerminlah pada gemerlapnya air samodera yang tidak mau ketempatan sampah, karena semua kotoran senantiasa disingkirkan kepinggir. Setiap langkah dalam pekerjaan, teladanilah perilaku air dari talang. Walaupun menetes satu tetes demi satu tetes mampu melobangi batu yang lebih keras dari baja.

4. MAU MENURUTI PERINTAH DAN NASIHAT

Hal yang paling berat diantara yang berat adalah keharusan mengikuti perintah dan nasihat. Bagaimanapun pahit dan beratnya, sebaiknya perintah dan nasihat itu diikuti saja. Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang manis di luar perhitunganmu dibalik barang yang pahit itu. Bukankah lebih baik merasakan pahit dahulu sebelum manisnya? Kamu bisa merasakan manis itu kan setelah tahu rasanya pahit. Demikian pula kamu bisa merasakan kesenangan karena kamu pernah mengalami kesusahan

5. MAU MINTA PENDAPAT ORANG

Orang pandai yang mau meminta pendapat orang lain bisa dikatakan manusia utuh. Yang merasa pandai kemudian enggan meminta pendapat orang lain adalah manusia setengah utuh. Kemudian siapapun yang tidak mau minta pendapat orang lain bisa dikatakan sama sekali belum menjadi manusia.

6. JANGAN TERLALU MUDAH MOHON PETUNJUK

Orang yang sering diberi nasihat oleh orang lain biasanya menjadi orang yang hati-hati, tetapi kalau dihadapkan pada sesuatu sering tidak bisa memutusi sendiri. Terpaksa masih harus berpaling kepada orang lain yang dipandang mampu memberi petunjuk. Oleh sebab itu, sebaiknya berpeganganlah pada hati dan kekuatanmu sendiri, karena sebenarnya kalau terjadi sesuatu maka orang lain hanya sekedar melihat tanpa ikut merasakan

7. JANGAN GAMPANGAN DAN MENGANGGAP ENTENG APA SAJA

Siapa yang menganggap apa saja mudah, pasti akan banyak menemukan masalah. Siapa yang gampang janji, dialah yang jarang menepati janji

8. JANGAN MENUNDA PEKERJAAN

Semua pekerjaan yang sudah kau yakini manfaat dari hasilnya, hendaknya segera dilaksanakan, jangan ditunda. Niat dan tekad kalau ditunda-tunda tidak akan bertambah kuat. Justru menjadi semakin lemah bahkan hilang kekuatannya. Sifat suka menundanunda merupakan jalan menuju watak tidak tetap dan malas. Malas bekerja membuat kita tidak berharga dalam kehidupan bermasyarakat.

9. MAMPU MENYIMPAN RAHASIA DAN TIDAK INGIN TAHU RAHASIA ORANG LAIN

Semua rahasia yang baik maupun buruk kalau tetap kau simpan dalam hati selamanya akan tetap menjadi budakmu. Sebaliknya kalau kau buka sedikit saja maka akan menjadi tuanmu. Menyimpan rahasia pribadi saja berat apalagi kalau dipercaya menyimpan rahasia orang lain. Oleh sebab itu jangan suka mengetahui rahasia orang lain. Hanya akan menambah beban yang sebetulnya bukan kewajibanmu untuk memeliharanya.

10. SUKSES: JANGAN HILANG KEWASPADAAN

Orang sukses yaitu: Orang yang sudah mengeluarkan semua kemampuannya dan berupaya sampai tercapai harapan dan keinginannya sesuai yang dicita-citakan. Tercapainya sukses bukan berati akhir ceritera, justru harus lebih awas, waspada dan hatihati. Mengingat sering kejadian setelah sukses orang menjadi kehilangan kewaspadaan, sembrono dan menganggap enteng segala sesuatunya sehingga berakibat fatal. Oleh sebab itu anggaplah sukses sebagai pelatihan demi kelestarian cita-cita yang baik.

11. WASPADA DENGAN IMING-IMING

Orang yang ringkih iman dan batinnya akan mudah jadi target penipu yang berkeliaran mencari mangsa. Banyak orang yang terlalu cepat percaya iming-iming tanpa dipikir apa yang akan terjadi di belakang hari. Akhirnya mengalami kerugian dan tertipu. Oleh sebab itu selalulah waspada. Jangan kehilangan kewaspadaan.

12. PUJIAN: TIDAK SEMUDAH ITU DIDAPAT

Siapa orang yang tidak senang menerima pujian. Tetapi untuk memperolehnya tidaklah mudah. Harus dibekali perilaku baik yang bermanfaat untuk orang banyak. Kalau hanya berbekal harta, pujian hanya berhenti di bibir, tidak sampai ke dalam hati. Demikian pula kalau bekalnya perilaku yang “lamis” di belakang hari akan dimaki-maki dan disingkirkan dari dunia pergaulan.

13. KEHORMATAN: AKAN DATANG SENDIRI, TAK USAH DIBURU

Bila ingin dihormati orang lain jangan suka memberitahukan kesana kemari apalagi kemampuan dan kelebihanmu. Penghormatan dari orang lain sebetulnya tidak perlu dikejar karena akan datang sendiri. Menunjukkan kelebihan harus empan papan, tahu kapan dan bagaimana caranya. Sebenarnya lebih baik jangan sampai orang bisa meraba kemampuanmu, tetapi kalau diperlukan kamu bisa mengatasi.




Top