Tingkatkan Profesional Mengajar, STT Sosialisasikan Tahapan Serdos

Berita 19 Maret 2018 Taslim 13



STT Ibnu Sina - Sebagai upaya peningkatan mutu pengajar, salah satu cara dilakukan adalah tersertifikasi para dosen. Sertifikasi merupakan penilaian yang dilakukan pemerintah melalui Kopertis wilayah perguruan tinggi tersebut berada. Adanya, sertifikasi diharapkan mampu meningkatkan kualitas dari dosen dalam mengemban tugas tri dharma perguruan tinggi. 

Wakil Ketua I STT Ibnu Sina Batam, M. Ansyar Bora, MT.,IPM. sendiri yang memberikan materi sosialisasi kapada para dosen, Minggu (18/3/2018). Dalam pertemuan ini, ia menjelaskan beberapa tahapan harus dilalui para dosen termasuk syarat yang harus dilengkapi.

"Instrumen persepsional ada sembilan, yakni,   Penetapan data D3, diunggah pada tanggal 19 Februari setelah itu verifikasi berkas hingga 5 Maret oleh
 PTN, Kopertis dan Kementerian/Lembaga Mitra melakukan verifikasi data D3,"ujar Ansyar. 

Penetapan data D4, diunggah pada tanggal 6 Maret 2018. Calon DYS melakukan penilaian persepsional dari tanggal 6 hingga 20 Maret 2018.

5.  Penetapan data D5 diunggah pada 22 Maret.  

Setelah itu, DYS melakukan pengisian dan validasi deskripsi diri dari 22 Maret hingga 2 April 2018 baru kemudian  Pengajuan Deskripsi Diri oleh PT sampai dengan tanggal 3 April 2018.

"Penilaian portofolio pada tanggal 10 April hingga 24 April 2018.

 Jika lolos, maka  Yudisium nasional dilaksanakan tanggal 28 April 2018,"ujar Ansyar yang sepekan sebelumnya sudah mengikuti pelatihan sama yang dilakukan Kopertis X di Pekanbaru. 

Sertifikasi dosen juga mampu meningkatkan proses hasil pendidikan dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Untuk diketahui, program sertifikasi dosen (serdos) tahun anggaran 2018 mulai bergulir. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikit) mengalokasikan kuota serdos sebanyak 10 ribu kursi. Dosen yang mendaftar diingatkan jangan sampai plagiat.

Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, ada beberapa penyebab peserta serdos tidak lulus sertifikasi. Tahun lalu, jumlah dosen yang tidak lulus sertifikasi mencapai 809 orang. Periode 2016 tambah besar lagi, yakni mencapai seribu orang lebih.

Menurut guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, umumnya dosen yang tidak lulus di serdos karena penilaian deskripsi dirinya rendah. 

’’Kemudian (nilai, red) bahasa Inggris dan uji potensi akademik,’’ katanya, kemarin (7/2). 

Dia berharap, tahun ini seluruh dosen menyiapkan diri sebaik mungkin, supaya bisa lolos serdos. Ghufron juga mengatakan, para dosen supaya tidak plagiat atau mencontek deskripsi diri milik rekan sejawatnya. Dia tidak memungkiri bahwa kegiatan plagiat atau copy-paste paparan deskripsi diri cukup banyak. Praktik seperti itu menurutnya gampang dideteksi oleh penilai sertifikasi dan berujung skor rendah serta tidak lulus.




Top